1. Riwayat Hadits
ﺣﺪﻳﺙﺃﻧﺱﺭﺿﻲﺍﷲﻋﻧﻪﻗﺎﻞﺳﺋﻞﺭﺳﻭﻝﺍﷲﺻﻟﻰﺍﷲﻋﻟﻳﻪﻮﺳﻟﻡﻋﻦﺍﻟﻛﺑﺎﺌﺭﻗﺎﻝ׃
ﺍﻻﺷﺭﺍﻙﺑﺎﺍﷲﻭﻋﻘﻭﻕ ﺍﻠﻮﺍﻟﺪﻳﻥﻭﻗﺗﻝﺍﻟﻧﻔﺱﻭﺷﻬﺎﺪﺓﺍﻟﺯﻭﺮ.
ﺍﺨﺭﺠﻪﺍﻟﺑﺨﺎﺭﻯﻓﻰ׃ ٥٢ ـ ﮐﺘﺎﺏﺍﻟﺷﻬﺎﺪﺍﺕ׃١٠ ـ ﺑﺎﺐﻣﺎﻗﻳﻝﻓﻰﺷﻬﺎﺪﺓﺍﻟﺯﻭﺭ.
Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Hadits Anas ra. Dimana ia berkata: “Rasulullah saw. ditanya tentang
dosa-dosa besar, kemudian beliau menjawab: “Mempersekutukan Allah, durhaka
kepada kedua orang tua, membunuh jiwa (manusia), dan saksi palsu.”
Al-Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam “Kitab Persaksian” bab tentang
apa yang dikatakan dalam saksi palsu.
2. Sababul Wurud
Dalam kitab Riyadhus
Shalihi dijelaskan, bahwa ketika Nabi menjelaskan tentang dosa syirik
dan durhaka terhadap kedua orang tua, beliau dalam keadaan bersandar, namun
kemudian beliau duduk untuk menunjukan betapa pentingnya masalah yang akan
dibahasnya, yaitu tentang dosa saksi palsu. Beliau terus mengulang-ulanginya,
sampai para sahabat berkata, “Semoga Rasulullah segera diam”.
3. Penjelasan (syarah) Hadits
Dalam hadits di atas diterangkan
empat macam dosa besar, yakni menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua,
membunuh jiwa manusia tanpa hak dan menjadi saksi palsu.
B.
TUJUH MACAM DOSA BESAR
1. Riwayat Hadits
ﺣﺪﻳﺙﺍﺒﻰﻫﺭﻴﺭﺓﺭﺿﻰﺍﷲﻋﻧﻪ٬ﻋﻦﺍﻟﻧﺑﻰﺻﻟﻰﺍﷲﻋﻟﻳﻪﻮﺳﻟﻡﻗﺎﻝ׃ﺍﺠﺗﻨﺑﻭﺍﺍﻟﺳﺑﻊﺍﻟﻣﻭﺑﻘﺎﺕ٬
ﻗﺎﻟﻭﺍﻴﺎﺮﺳﻭﻝﺍﷲﻭﻣﺎﻫﻦ؟ﻗﺎﻝ׃ﺍﻟﺷﺮﻙﺑﺎﷲ٬ﻭﺍﻟﺴﺤﺮ٬ﻭﻗﺗﻝﺍﻟﻨﻔﺲﺍﻟﺗﻰﺤﺮﻡﺍﷲﺍﻻﺑﺎﻟﺤﻕ٬ﻮﺍﻜﻝﺍﻟﺮﺑﺎ٬ﻮﺍﻜﻝﻣﺎﻞﺍﻟﻳﺗﻴﻡ٬ﻮﺍﻟﺗﻮﻟﻰﻴﻮﻡﺍﻟﺯﺤﻒ٬ﻮﻗﺫﻑﺍﻟﻤﺤﺻﻨﺎﺖﺍﻟﻤﻮﻤﻨﺎﺖﺍﻟﻐﺎﻓﻼﺕ.
ﺍﺨﺭﺠﻪﺍﻟﺑﺨﺎﺭﻯﻓﻰ ׃٥٥ـ ﮐﺘﺎﺏﺍﻟﻭﺻﺎﻴﺎ׃٢٣ـ
ﺑﺎﺏﻗﻭﻝﺍﷲﺗﻌﺎﻟﻰ׃ﺍﻦﺍﻟﺬﻴﻥﻴﺄﻛﻟﻮﻦﺍﻤﻭﺍﻞ ﺍﻟﻴﺘﺎﻤﻰﻈﻟﻤﺎ.
Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Hadits Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. dimana beliau bersabda: “ Jauhilah tujuh macam dosa yang
membinasakan.”Para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, apakah ketujuh
macam dosa itu?” Beliau menjawab: “Mempersekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa
(manusia) yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan
harta anak yatim, lari pada saat pertempuran (dalam jihad) dan menuduh (berbuat
zina) kepada wanita-wanita yang selalu menjaga diri, mukminat dan tidak pernah
berfikir (untuk berzina).”
Al-Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam “Kitab Wasiat” bab tentang firman Allah SWT (yang artinya) : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta
anak yatim dengan aniaya . . . .“
2. Penjelasan (syarah) Hadits
Kebaikan
itu memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Demikian juga halnya dengan kejahatan
dan dosa. Kebaikan apa saja yang mempunyai manfaat besar, maka pahalanya di
sisi Allah akan besar juga. Sedangkan kebaikan yang manfaatnya lebih rendah,
maka pahalanya pun seimbang dengan kebaikan tersebut. Sebaliknya, setiap
kejahatan yang mudharatnya lebih besar, maka ia disebut sebagai dosa-dosa besar
yang membinasakan dan siksanya pun sangat berat. Adapun kejahatan yang
mudharatnya lebih rendah dari itu, maka ia tergolong kepada dosa-dosa kecil
yang dapat terhapus dengan jalan menjauhi dosa-dosa besar.
Allah
Ta’ala berfirman,
Jika
kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang
kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS An-Nisa [4]:
31)
Dalam
hadis di atas, Rasulullah Saw menyuruh umatnya agar menjauhi tujuh dosa yang
membinasakan. Tujuh dosa ini bukan berarti pembatasan (hanya tujuh perkara)
atas dosa-dosa yang membinasakan. Tetapi hal ini sebagai peringatan atas
dosa-dosa yang lainnya. Ketujuh dosa yang dimaksudkan dalam hadis di atas,
uraiannya adalah sebagai berikut.
C. Dari Abul Asqa' yaitu Watsilah bin
al-Asqa' r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya termasuk
sebesar-besar kedustaan ialah apabila seseorang itu mengaku-aku pada orang yang
selain ayahnya - yakni bukan keturunan si Fulan, tetapi ia mengatakan
keturunannya, atau orang yang mengatakan ia bermimpi melihat sesuatu yang
sebenar- nya tidak memimpikannya* atau ia mengucapkan atas Rasulullah s.a.w.
sesuatu yang tidak disabdakan olehnya - yakni bukan sabda Nabi s.a.w. dikatakan
sabdanya." (Riwayat Bukhari)
D. Dari Sa'ad bin Abu Waqqash r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang mengaku - sebagai nasab atau keturunan - kepada orang
yang bukan ayahnya, sedang ia mengetahui bahawa orang itu memang bukan ayahnya,
maka syurga adalah haram atasnya." (Muttafaq 'alaih)
E. Dari Abu Zar r.a. bahawasanya ia mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Tiada seorang pun yang mengaku bernasab atau
berketurunan kepada seseorang yang selain ayahnya, sedangkan ia mengetahui akan
hal itu, melainkan kafirlah ia Dan barangsiapa yang mengaku sesuatu yang bukan
miliknya, maka ia tidaklah termasuk golongan kita - kaum Muslimin - dan
hendaklah ia menduduki tempat dari neraka. Juga barangsiapa yang mengundang
seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia berkata bahawa orang itu musuh
Allah, sedangkan orang yang dikatakan tadi sebenarnya tidak demikian, melainkan
kembalilah - kekafiran atau sebutan musuh Allah - itu kepada dirinya
sendiri." (Muttafaq'alaih)
F. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Janganlah engkau semua membenci kepada ayahmu sendiri - sehingga mengaku
orang lain sebagai ayahnya, kerana barangsiapa yang membenci ayahnya sendiri,
maka perbuatan itu menyebabkan kekafiran," yakni dapat kafir kalau
meyakinkan bahawa perbuatan- nya itu halal menurut agama atau dapat diertikan
kafir yakni menutupi hak ayahnya atas dirinya sendiri. (Muttafaq 'alaih)
G. Dari Abu Bakrah iaitu Nufai' bin
al-Harits r.a'., katanya: "Rasulullah s.a.w.
bersabda:"Tidakkah engkau semua suka saya memberitahukan perihal
sebesar-besarnya dosa besar?" Beliau menyabdakan ini sampai tiga kali.
Kita-para sahabat- menjawab: "Baiklah,ya Rasulullah." Beliau s.a.w.
bersabda: "Menyekutukan kepada Allah dan berani kepada kedua
orangtua." Semula beliau s.a.w. bersandar lalu duduk kemudian bersabda
lagi: "Ingatlah, juga mengucapkan kedustaan serta menyaksikan secara
palsu." Beliau s.a.w. senantiasa mengulang-ulanginya kata-kata yang akhir
ini, sehingga kita mengucapkan: "Alangkah baiknya, jikalau beliau diam
berhenti mengucapkannya." (Muttafaq 'alaih)
H. Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash
radhiallahu 'anhuma dari
Nabi s.a.w, bersabda:"Dosa-dosa besar itu ialah menyekutukan kepada Allah,
berani kepada kedua orangtua, membunuh seseorang - tidak sesuai dengan haknya -
serta bersumpah secara palsu." (Riwayat Bukhari)
I. Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash
r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:"Termasuk dalam golongan dosa-dosa besar ialah jikalau seseorang
itu memaki- maki kedua orang tuanya sendiri." Para sahabat bertanya:
"Ya Rasulullah,adakah seseorang itu memaki-maki kedua orang tuanya
sendiri." Beliau s.a.w. menjawab: "Ya, iaitu apabila seseorang itu
memaki-maki ayah seseorang, lalu orang yang dimaki-maki ayahnya itu lalu
memaki-maki ayahnya sendiri. Atau seseorang itu memaki-maki ibu orang lain,
lalu orang yang dimaki-maki ibunya ini, memaki-maki ibunya sendiri." (Muttafaq
''alaih)
J. Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash
r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:"Termasuk dalam golongan dosa-dosa besar ialah jikalau seseorang
itu memaki- maki kedua orang tuanya sendiri." Para sahabat bertanya:
"Ya Rasulullah,adakah seseorang itu memaki-maki kedua orang tuanya
sendiri." Beliau s.a.w. menjawab: "Ya, iaitu apabila seseorang itu
memaki-maki ayah seseorang, lalu orang yang dimaki-maki ayahnya itu lalu
memaki-maki ayahnya sendiri. Atau seseorang itu memaki-maki ibu orang lain, lalu
orang yang dimaki-maki ibunya ini, memaki-maki ibunya sendiri." (Muttafaq
''alaih)
Durhaka
Kepada Orang Tua
Maksudnya
adalah tidak berbakti kepada keduanya. Setiap anak wajib berbakti kepada kedua
orang tuanya sesuai kemampuannya. Ia wajib menaati mereka selama bukan untuk
kemungkaran dan kemaksiatan kepada Allah SWT.
Dalam Al-qur’an
banyak sekali ayat yang menerangkan keharusan berbuat baik terhadap orang tua.
Menurut Ibn Abas, dalam Al-Qur’an ada tiga hal yang selalu dikaitkan
penyebutannya dengan tiga hal lainnya, sehingga tidak dapat dipisahkan antara
yang satu dan lainnya, yaitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dirikan shalat
dan keluarkan zakat, bersyukur kepada Allah dan kepada kedua orang tua.
Hal itu
menandakan bahwa peran dan kedudukan orang tua sangat tinggi di hadapan Allah
SWT, sehingga Rasulullah SAW. bersabda:
ﺮﺿﻰﺍﷲ ﻓﻰ ﺮﺿﻰﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻴﻦﻭﺴﺧﻁ ﺍﷲ ﻓﻰﺴﺧﻁ ﻟﻮﺍﻟﺪﻴﻦ.
﴿ﺮﻭﺍﻩﺍﻟﺘﺮﻤﺬﻯﻮﺍﻟﺤﺎﻛﻡ ﺑﺷﺮﻄ ﺍﻟﻤﺴﻟﻡ﴾
Artinya: “Keridaan Allah itu terletak pada keridaan kedua ibu bapaknya dan
kemurkaan Allah itu terletak pada kemurkaan kedua ibu bapak pula”. (HR. Muslim, Hakim, dengan
syarat Muslim)
Membunuh
Maksud membunuh
dalam pembahasan ini adalah membunuh jiwa yang diharamkan tanpa hak dengan
sengaja. Orang yang berbuat seperti itu akan dimasukkan ke neraka jahanam dan
kekal di dalamnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat
93 yang artinya: “Barang siapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja,
maka balasannya ialah neraka jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka
kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
Dan Nabi SAW.
bersabda:
ﺇﺬﺍﺍﻟﺘﻘﻰﺍﻟﻤﺴﻟﻤﺎﻦﺑﺴﻴﻔﻴﻬﻤﺎ٬ ﻓﺎﻟﻘﺎﺘﻝﻭﺍﻟﻤﻘﺘﻭﻝﻓﻲﺍﻟﻨﺎﺭ٬ﻫﺫﺍﺍﻟﻘﺎﺗﻞ٬ ﻓﻣﺎﺒﺎﻞﺍﻟﻣﻘﺗﻭﻞ؟
ﻗﺎﻞ׃ ﻷﻨﻪﻛﺎﻦﺣﺭﻳﺻﺎﻋﻟﻰﻗﺗﻞﺻﺎﺣﺑﻪ.
Artinya: “Jika
dua orang lelaki Muslim berjumpa membawa pedangnya masing-masing (dengan tujuan
untuk saling membunuh), maka pembunuhnya dan yang terbunuh akan sama-sama masuk
neraka. Lalu beliau ditanya oleh seorang sahabat: Ya Rasulullah, benarlah jika
pembunuh ini masuk neraka, tetapi mengapakah pula orang yang terbunuh itu turut
sama masuk neraka? Nabi SAW. menjawab: Sebab yang terbunuh itu berusaha pula
untuk membunuh kawannya yang telah membunuhnya itu.” (Riwayat Bukhari, Muslim
dan Ahmad)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar